Dan butiran pepasir itu pun menangis saat rintihan Yasir bergelung di langit menahan pedihnya siksaan. Langit mendung tak kuasa menahan murungnya ketika Sumayyah merapatkan kedua bibirnya, sesaat kemudian gerigi atasnya mencengkeram kuat-kuat bibir bawahnya. Setetes air mata tak nampak dari sudut matanya meski ribuan tetes darah menghiasi nyaris seluruh raganya. Satu persatu nafas Yasir dan Sumayyah meninggalkan jasad ringkihnya, senyum kemenangan kedua orangtua sahabat Amr bin Yasir itu melambaikan tangan menyambut panggilan lembut para bidadari Surga. Beberapa hasta dari dua jasad mewangi itu, seorang pemuda belia tengah menghadapi maut untuk menapaki langkah-langkah kedua orangtuanya. Bibirnya bergetar dengan tak henti menyebut nama agung Tuhannya. Ya, Amr bin Yasir, meski sebagian orang sempat meragukan keimanannya, di kemudian hari ia justru menjadikan dirinya sebagai tameng Rasulullah di berbagai kesempatan.
Translate
Tampilkan postingan dengan label kisah.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah.. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Me on Twitter!
- "Add Me on Facebook!
- My Blog
Contact